Pertanyaan dasar yang muncul saat itu,
bagaimana caranya?
Sebagai
SFC, tentunya kami bertanggung jawab untuk memberikan pertimbangan dan bantuan atas pertanyaan tersebut. Kami kemudian menghubungi
Bunda Iffet di Jakarta.
Di suatu waktu lain, ada informasi bahwa
Slank berhalangan.
Bunda Iffet dan
Dr. Aisyah sebagai
satu tim jadi
alternatif pilihan kedua. Pada dasarnya, pihak Jakarta memberikan respon yang sangat positif, tetapi karena
bersamaan dengan pelaksaan sebuah event HANI di Jakarta, Bunda dan timnya juga
berhalangan datang.
Yuli dan Putu kemudian mengusulkan dan mengajukan
Bejo sebagai narasumber yang akan memberikan sebuah "
testimoni", sebagai pilihan akhir. Walau pada awalnya ada sedikit ragu, pilihan itu kemudian ditanggapi dan diterima Bejo dengan sangat positif.
..................
Pada tanggal 27Juni 2009, Seminar Nasional dengan tema "My Self, My Parents, My Drugs...Which One Is My Enemy?" itu dijalankan. Mulai persiapan pada jam 06:00 pagi dan administrasi peserta, akhirnya acara
dibuka pada 08:00 dengan penjelasan tentang "
Profil German".
Acara kemudian dilanjutkan berturut-turut dengan
sambutan,
hiburan (tari), penjelasan materi dari
BNP (Badan Narkotika Propinsi),
Komas,
HIMPSI dan tanya jawab. BNN memaparkan materi seputar undang-undang penyalahgunaan narkoba, contoh kasus, perkembangan peredaran narkoba serta langkah-langkah yang telah diambil BNN. Dari pihak Komnas, dipaparkan tentang perkembangan psikologi anak yang berhubungan dengan pola asuh, peran dan pengaruh orang tua.
..................
OPPENING
Setelah istirahat makan siang, sebuah
drama membuka kembali acara.
Diceritakan di sini tentang seorang anak
broken home yang kemudian keluar rumah mencari pelarian. Sangat disayangkan, pergaulan negatif membuatnya salah jalan, seiring
narkoba membuat hidupnya jadi tambah sengsara. Dan,
kematian menjadi akhirnya.

Sebagai
puncak acara, seminar dilanjutkan dengan
testimoni dengan kisi-kisi materinya adalah seputar penyebab, dampak atau akibat serta langkah yang diambil agar terlepas dari narkoba.
Menurut beberapa peserta dan panitia, acara sebelumnya berjalan dengan sangat formal, jadi diharapkan testimoni, walau lebih berat bobotnya, dapat berjalan dengan santai dan sedikit menghibur. Tapi, dengan berlatar belakang sebuah film pendek pada medium screen,
Bejo yang sedikit gemetar karena sugestinya kembali ke masa lalu, membuka testimoni dengan menarik nafas panjang, menyebar "
rasa ngeri"!
Diceritakan
apa saja yang dirasakan oleh pelaku yang sedang "
sakaw". Mulai dari
keringat mengucur deras, perasaan
gelisah,
mimpi-mimpi buruk yang datang bertubi,
emosi yang tinggi dan seluruh persendian yang bukan main
sakitnya, hingga ujung-ujung kuku yang seakan ingin terlepas satu-persatu. Pada film tahun 1974 milik Polresta Malang yang berdurasi sekitar 04:25 menit itu, perlu ditegaskan di sini bahwa para pelakunya telah meninggal dunia.
Wajah para peserta seminar terpaku dan tak sedikit yang sebentar memejamkan matanya. Semoga pada setiap isi kepala mereka dengan kebebasan berangan-angan yang merupakan hak asasi yang paling hakiki, masing-masing dapat membayangkan seperti apa sakitnya... ..................
PENYEBAB
"
Hidup adalah pilihan"...
Itu kalimat pertama yang diucapkan Bejo setelah duduk kembali. Kita memilih
baju apa yang kita kenakan hari ini,
berjilbab atau tidak,
merias wajah atau tidak,
parfum apa yang kita sebarkan, apa yang melindungi
telapak kaki, dengan apa kita menuju acara seminar dan dimana kita akan
memilih untuk duduk. Tentunya, kita memilih berdasarkan
hak asasi masing-masing.
Begitu pula dengan
hidup di sebuah lingkungan bernama
keluarga. Bagaimana kita hidup bersama bapak, ibu, kakak atau adik, atau saudara sedarah. Bagaimana kita hidup di antara
tetangga dan
kerabat. Bagaimana kita memilih
sekolah atau
kuliah. Siapa yang kita pilih sebagai
teman,
kawan dan
sahabat. Semua itu akhirnya kembali ke pribadi masing-masing. Hak asasi yang paling hakiki.
Begitu pula dengan "
Narkoba"...
Kata orang banyak, tak salah bila kita memilih narkoba karena alasan
persoalan keluarga, "
broken home". Tapi maaf, jujur, alasan itu lebih sering hanya sebatas sebuah "
pembenaran" karena sebuah sebab yang bernama "
pelarian".
Lalu, kalau berdasarkan "broken home", sebagai protes atas keadaan, kenapa kita tidak memilih
memukul tembok?
Mendobrak pintu?
Berteriak bebas?
Merampok?
Membunuh orang? Atau bahkan
bunuh diri?
Kenapa harus memilih mencicipi
narkoba? Dan, akan salah besar jika kemudian sangat
tergantung pada narkoba.
Sementara itu, bila
tak ada pengawasan dari orang tua dan lingkungan yang tak perduli, atau bahkan didukung oleh adanya teman yang menurut kita senasib, sebenarnya kita malah sungguh merasa sangat bebas,
merdeka! Kita
bebas memilih hidup seperti apa yang ingin kita buat.
Apakah
tidak tidur semalaman atau
bangun siang bahkan
tidur seharian sekalipun. Mau
makan apa atau bahkan
tak makan sekalipun. Itu yang kita inginkan,
bebas, tanpa ada yang mengatur harus begini atau begitu. Hidup tanpa narkoba sekali pun, itu pilihan kita.
Kenapa tak ada yang berani mengakui dirinya terlibat kerena memang
pilihannya sendiri? Kenapa tak ada yang berani mengakui bahwa pada
awalnya mungkin memang
enak? Kenapa tak ada yang berani jujur, bahwa
penyebab terlibat dalam dunia narkoba,
ketergantungan pada narkoba merupakan pilihan
diri kita sendiri? Kenapa harus beralasan dan menyalahkan keluarga, orang lain dan lingkungan? Maaf, sangat
omong kosong! Apapun alasannya, nilai "pembenaran" pribadi sangat sering merupakan usaha untuk menyembunyikan "
ketidakjujuran" itu sendiri.
Kita mencicipi narkoba atau bahkan terlibat dan lebih jauh tenggelam dalam dunia narkoba, adalah
pilihan kita sendiri!
DAMPAK atau AKIBATFisik•Berat badan menjadi turun drastis
•Kulit wajah pucat
•Mata merah, cekung menghitam
•Bekas suntikan (bila menggunakan narkoba dengan media jarum suntik)
Emosi•Perasaan tak menentu (labil), resah atau sering cemas
•Menjadi labil (lebih sensitif, mudah tersinggung bahkan cepat curiga)
Sosial•Terbatas dalam beradaptasi karena lebih menikmati kesendirian
•Sering emosi tinggi hingga bersengketa dengan orang lain
•Segala pekerjaan menjadi berantakan
Perilaku•Malas beraktifitas
•Sering tergesa-gesa
•Menjadi pelupa
•Suka dan menjadi pandai berbohong
•Sering menjual, menggadai barang bahkan mencuri untuk mendapatkan uang
•Menjadi ingkar janji
Pola pikir•Selalu saja berpikir tentang bagaimana mendapatkan narkoba
•Sering membuat "pembenaran" atas hal apa saja
LANGKAH UNTUK TERLEPAS DARI NARKOBA"
Hidup adalah pilihan"...
Suatu waktu, saat stok narkoba tak ada lagi, saat tak ada kawan yang perduli, saat hanya sendiri, saat berjalan mencari narkoba lagi, saat "barang" sudah di genggaman tangan, hati jadi was-was. Pertanyaan yang akan selalu datang menghantui, "
tertangkap" atau "
tidak"?
Suatu waktu, saat stok narkoba tak ada lagi, saat tak ada kawan yang perduli, saat hanya sendiri, saat tak mampu lagi berdiri, dua pikiran yang datang menghantui, "
terpaksa menikmati menderita" atau "
mati"! Mungkin, sesekali terucap janji dalam hati, bahwa akan tinggalkan narkoba bila derita ini sudah berakhir, bila tak sampai nyawa melayang.
Suatu waktu, saat sudah sadarkan diri, saat kawan menjadi perduli, saat keluarga mungkin mencari solusi, beranikah
berjanji dalam hati dan melakukannya, bahwa tak akan lagi mencuri waktu dan tempat untuk memakai narkoba.
Perasaan-perasaan,
obsesi tersebut selalu menempel di kepala,
sampai sekarang sekalipun. Lalu apa yang bisa kita perbuat?
Beberapa langkah yang diambil Bejo pada dasarnya adalah mencari
kegiatan, membuat diri kita
sibuk dengan hal-hal lain yang tentunya
positif! Bahkan walau sudah cukup lama terlepas dari narkoba, sampai saat ini, selalu saja orang yang melihatnya tetap pada pendirian mereka bahwa Bejo masih menggunakan narkoba. Tahukah mereka, bahwa untuk terlepas dari narkoba, kegiatan yang dilakukan Bejo bahkan hingga berhari-hari tak tidur? Jadi, tak salah bila akhirnya tetap saja matanya cekung menghitam!
Cinta, adalah salah satu cara lain agar tak kembali pada dunia narkoba. Mencari teman, kawan dan sahabat, bahkan kekasih untuk sekedar sebagai tempat
bertukar pikiran, curhat atau bahkan ke jalan yang lebih serius, menikah. Kita akhirnya memiliki sebuah
tanggung jawab pada diri sendiri, orang lain bahkan pada lingkungan kita.
Terus atau
stop pakai narkoba? Hanya
diri sendiri yang bisa
menjawab. Hanya diri sendiri yang bisa
memutuskan.
..................
CLOSSING"
Hidup adalah pilihan"...
Kalau dulu sempat salah memilih jalan hidup, tak akan mungkin itu dilupakan. Sampai saat ini, masih dapat dirasa sakitnya. Dan, sampai kapan pun, bayangan saat "menderita" itu tak akan bisa hilang. Biarlah itu menjadi pengalaman yang berharga. Biarlah itu menjadi resiko hidup yang akan dibawa sampai akhir. Tapi hal yang utama, tetap bersyukur tak terkena
HIV/AIDS dan sampai detik ini masih bisa merasakan indahnya hidup.
Saat harus memilih, "
My Self, My Parents, My Drugs...Which One Is My Enemy?", dapat dipastikan Bejo memilih "
My own self which is my enemy"!
Hidup itu pendek, jangan lagi diperpendek...
So,
jauhi narkoba,
stop narkoba!
Beranikan diri bilang tidak pada narkoba!








Ucapan terimakasih Bejo yang sebesar-besarnya kepada:
Yuli, Putu, dan kawan-kawan di GERMAN UM, yang telah memberikan kesempatan untuk berbagi cerita sehingga paling tidak dapat meringankan beban dalam kepala. Sasha, istri tercinta dan Tante Piet, yang mengerti tentang keadaanku, selalu menemaniku dan menjagaku. Slank (Mas Bim2, Ridho, Ka2, Abdee, Ivanka), Bunda dan Tim, yang walau jauh berbatas jarak, selalu memberi semangat dan masukan positif. Slanker's Malang dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
"Hidup adalah pilihan"... Terimakasih telah memilih untuk tetap mempercayaiku
Bejo